Waktu benar-benar punya caranya sendiri untuk berlari. Rasanya baru kemarin jemariku menari di atas tuts, menitipkan jejak di blog kesayanganku ini dan kini, hampir satu tahun telah berlalu dalam diam. ( Juni 2025 ketemu Juni 2026 )
Halo, rumah lamaku. Apa kabar?
I’m back. Maaf ya, aku sempat terlalu larut dalam hiruk-pikuk dunia. Rutinitas ku yang padat, menyita begitu banyak waktu.. membuatku sedikit lalai menyapamu ππ
Namun hari ini, aku kembali..
Ada cerita tentang seseorang yang ingin kusimpan kembali, bukan hanya dalam ingatanku tapi dalam rangkaian kalimat,
sebuah fragmen yang layak untuk abadi dalam tulisanku..
Mungkin tentang nya, menjadi salah satu potongan puzzle dalam hidupku.
Dan hari ini, ada seseorang yang ingin aku ceritakan di sini :)
π
Datang lagi..
.....
Kamu selalu on, melike postingan sosmed ku, dan akhirnya kamu memberanikan diri untuk bertanya kabar padaku kembali? Lalu akhirnya kamu pun bercerita padaku..
Kamu bilang, " Aku akan mewujudkan mimpimu, dulu kamu pernah bilang padaku, kamu mau kejepang kan Ta? Pelatihan bahasaku sudah selesai.. Dan aku akan terbang kesana, kenapa kamu nggak mau nunggu aku sebentar saja? Aku sudah sejauh ini Ta..
Kamu lebih memilih, Edin.. Edin itu,,
Edin yang mengangapmu adalah cinta monyet nya,
kamu pun pindah haluan, dan mimpimu berganti pada Edin kini.
Padahal di sini aku sedang mengusahakan mimpimu,
Jika aku sudah tinggal diJepang.. Apakah kamu ingin bersamaku?
Perasaanku masih tetap sama padamu, tidak ada yang berubah,
Jika kamu menyebutku gila.. mungkin iya, aku sudah tergila gila padamu Ditha!!
( itu yang ia ucapkan padaku)
Namaku bukan Ditha, namaku Tita.
Dan tentang Edin pun,, aku tak memilih Edin..
Aku hanya suka saja mendengar cerita tentang Edin yang seseorang ceritakan padaku..
Tentang betapa indah nya Edin itu..!!
Aku pun ingin mengunjungi Edin, Mungkin suatu saat nanti.
Dia memang baik, kamu juga memang baik.. Tapi aku tidak bisa membalas kebaikan diantara kalian berdua.
π₯°
Si gila : Iya aku tahu nama kamu Tita, tapi sebelum aku tahu nama aslimu, kamu sendirikan yang bilang namamu Ditha.
Aku senang, mendengarnya.. Aku kira kamu bakal pilih Edin,
Jika kamu mau.. Ayo sama aku, kita pergi ke Edin, aku mau menemani mu kesana. Berkunjung kesana adalah salah satu negara impianku juga Ta. Betapa indah nya jika aku bisa pergi kesana bersama mu.
Aku : Udah deh, Vn..stop!! Jangan bahas Edin lagi, Lupain aku!!
Kamu tahu.. Ditha, itu hanya nama virtual life aku, lagian sekarang aku udah gak main virtual life lagi.
Si gila : Iya aku tahu, kamu udah jarang on, bahkan udah nggak pernah on Ta..
Aku nggak peduli, nama kamu siapa? Aku mau tetap panggil kamu Ditha, anggap saja Ditha itu panggilan kesayangan aku buat kamu.
Aku : stop!! Please... Kamu ngerti nggak sih? Kita itu cuma fiksi? Tentang kita itu nggak nyata.. Kamu sama aku itu just virtual, kita itu hanya ada di game. Kenapa kamu bawa ke dunia nyata??
Si gila : aku nggak tau Ta.. Aku benar-benar jatuh cinta sama kamu.
Aku nggak pernah bisa lupain kamu, aku udah coba move on.. Punya pacar, tapi nggak bisa Ta, itu bukan kamu.. Aku nggak nemu kamu di perempuan mana pun??
Kamu tahu Ta, aku sempat putus asa..
Aku sesayang itu sama kamu.
aku : Kamu GILA Vn..!!
Si gila : Aku emang GILA karena kamu, saking sayang nya sama kamu..
Dua tahun kemarin aku serius belajar bahasa Jepang, kamu yang bikin aku termotivasi.. Akhirnya aku bakal ke Jepang.
Aku udah siapin semuanya, tinggal berangkat, Kamu tunggu aku setahun lagi aku bakalan menetap disana, aku mau ajak kamu tinggal disana Ta..
Aku : kamu makin GILA, udah pasti aku nggak bisa.. Aku udah milik seseorang!! Kamu juga tahu itu..
Si gila : aku nggak peduli, sebaik apapun pasangan mu.. Aku yakin, aku bisa jadi yang lebih baik lagi buat kamu.
Aku : Kamu masih muda Vn, usia kamu aja dibawah aku, kamu bisa dapet yang lebih baik dari aku!!
Si gila : Aku nggak peduli Ta.. Berapapun jarak usia kita, bukan alasan!! Justru itu, kamu perempuan pertama yang begitu membekas dihati dan ingatan aku. Nggak ada yang sedewasa kamu, sepengertian kamu, sepeduli kamu dan sebaik kamu..
Kamu tahu Ta, kamu itu beda dari perempuan manapun yang pernah aku kenal, kamu punya daya tarik sendiri dengan segala aspek yang ada dalam dirimu, kamu unik dengan versimu Ditha.. dari awal aku tahu, hati aku nggak pernah salah pilih,
Tentang kamu itu begitu hidup diingatan dan hati aku.
Karena kamu DITHA, aku menemukan mimpiku.. Itu kenapa aku juga mau kamu menemani mimpiku ini.
Aku : ......
Si gila : kamu sendiri yang bilang, masa depan itu rahasia kehidupan, tidak ada yang tahu kedepan nya bakalan seperti apa? Benang merah itu nyata.. Jika kita memang ada takdir dan sinkronasi benang merah itu..
Aku yakin kita bisa bersama, dan akan aku pastikan kamu akan jauh lebih bahagia bersamaku.
Aku : .......
πΌπΌπΌπΈπΈπΈ
Dia kembali lagi..
Polanya selalu sama: ia akan hadir lewat jejak-jejak kecil di media sosial, menyukai unggahanku seolah sedang mengetuk pintu, sebelum akhirnya memberanikan diri untuk kembali masuk ke dalam percakapan.
Dan kali ini, ia datang dengan sebuah pengakuan yang membuatku terdiam.
Ia datang membawa mimpi yang dulu pernah kusebutkan, tentang Jepang. Katanya, dua tahun ini ia berjuang, belajar bahasa dengan keras, hanya demi mewujudkan rencana yang dulu pernah kami bicarakan saat kami masih terjebak dalam dunia virtual.
"Aku akan ke sana, Ta. Kenapa kamu tidak mau menungguku sedikit saja?" tanyanya dengan nada yang penuh obsesi sekaligus kasih sayang. Ia masih memanggilku "Ditha" nama virtual yang dulu kupakai, yang baginya sudah menjadi panggilan kesayangan yang tak tergantikan. Ia juga masih terjebak pada asumsi tentang "Edin", sebuah tempat dan sosok yang baginya adalah saingan, padahal bagiku, itu hanyalah cerita indah yang ingin kukunjungi suatu saat nanti, bukan sebuah pilihan hati.
Aku sudah berkali-kali memintanya untuk berhenti. "Kita hanya fiksi," kataku. "Apa yang terjadi di dunia game tidak seharusnya ditarik ke kenyataan."
Namun, ia menolak untuk sadar. Baginya, cintanya jauh lebih nyata daripada jarak dan statusku sekarang. Ia mengaku sudah mencoba untuk move on, mencoba mencari sosok lain, namun ia gagal. Ia bilang, tidak ada perempuan lain yang lebih indah dari aku dan perhatian yang sama sepertiku.
"Aku tidak peduli tentang usia, aku tidak peduli tentang pasanganmu sekarang," ucapnya keras kepala. "Aku hanya tahu kamu adalah perempuan pertama yang begitu membekas dalam ingatanku."
Mendengarnya berbicara tentang "benang merah" dan masa depan yang ia rancang untuk kami berdua, rasanya menyesakkan. Aku sudah memilih jalan hidupku, aku sudah bersama seseorang, namun di sisi lain, aku tidak bisa memungkiri bahwa ada laki-laki, seorang laki-laki yang mungkin bisa kusebut "GILA" karena obsesinya.. yang begitu tulus ingin memperjuangkan mimpiku bersamanya.
Mungkin ini adalah bagian dari hidup yang harus kuingat.
Bahwa pernah ada seseorang yang mencintaiku sebegitu dalam, sebegitu terobsesi, hingga ia menjadikan hidupku sebagai alasan untuk ia tumbuh dan mencapai impiannya.
Meski aku tak akan pernah bisa membalasnya, setidaknya aku ingin menuliskan ini. Agar suatu saat nanti, aku tidak lupa bahwa aku pernah dicintai sedemikian rupa oleh seseorang yang berani menantang takdir, meski dia tahu bahwa aku tak mungkin bisa menjadi miliknya.
π
Ada sesuatu yang aneh tentangnya..
Dia masih muda, jauh lebih muda dariku, dan terkadang sifat kekanak-kanakannya muncul begitu saja.. polos, lugu, dan apa adanya. Cintanya seperti kanvas putih yang bersih, tidak banyak retakan, tidak banyak basa-basi. Ia mencintaiku dengan cara yang begitu sederhana, layaknya seseorang yang baru pertama kali mengenal dunia dan memutuskan bahwa akulah satu-satunya hal paling menarik di dalamnya.
Di saat-saat tertentu, dia bisa sangat konyol, membuatku tertawa sampai lupa pada beban orang dewasa yang kutanggung setiap hari. Bersamanya, dinding yang kubangun perlahan runtuh. Aku merasa lebih ringan, lebih berani untuk menjadi diriku sendiri tanpa takut dihakimi. Ia mengajakku mengeksplorasi banyak hal, memperkenalkan dunianya yang penuh warna, dan menunjukkan sisi-sisi indah dari hal-hal kecil yang selama ini kuabaikan.
Namun, di balik semua tawanya yang renyah dan sifatnya yang kadang menggemaskan, dia punya sisi yang tak terduga. Ada momen-momen di mana ia tiba-tiba bertransformasi menjadi sosok yang begitu dewasa dan bijaksana. Dia tahu kapan harus berhenti bercanda dan kapan harus mendengarkan setiap keluh kesahku dengan pandangan yang dalam.. seolah ia bisa melihat apa yang tidak diucapkan oleh bibirku.
Sifatnya yang kontradiktif itu.. antara jiwa muda yang meluap-luap dan kedewasaan yang tenang, adalah alasan mengapa dia begitu membekas. Dia adalah perpaduan antara tempat bermain yang menyenangkan dan tempat pulang yang menenangkan.
Aku tahu, posisi kami mustahil. Jarak usia dan realitas hidup kami adalah jurang yang tak bisa diseberangi. Namun, aku tidak bisa memungkiri kenyataan bahwa bersamanya, aku menemukan kembali bagian dari diriku yang sempat hilang. Dia adalah anomali yang manis. Dia, dengan segala kepolosan dan obsesi "GILA"-nya, telah berhasil membuat hari-hariku yang sudah berwarna menjadi makin berwarna lagi dan lebih hidup.
Mungkin benar apa katanya, cinta memang tidak pernah mengenal hitungan usia. Meski aku tak bisa menjanjikan masa depan bersamanya, setidaknya aku ingin mencatat ini: bahwa pernah ada seseorang yang mencintaiku dengan cara yang begitu tulus, yang membuatku merasa berharga hanya dengan menjadi diriku sendiri.
Dan untuk kamu, "si GILA" yang akan berjuang menggapai mimpi di negeri sakura sana, terima kasih telah membuat hidupku yang absurd ini terasa seperti sebuah petualangan yang tak terlupakan..
π
Mungkin benar apa kata orang, bahwa ada orang-orang yang hadir ke dalam hidup kita bukan untuk menetap, melainkan untuk meninggalkan jejak yang tak mungkin bisa dihapus oleh waktu. Dan dia, sosok yang kupanggil "si BRONDONG GILA" itu, adalah salah satunya.
Mengingatnya selalu terasa seperti membaca buku dengan bab-bab yang tak pernah kuijinkan untuk selesai. Dia adalah jiwa muda dengan cinta yang masih selugu kanvas putih, belum ternoda oleh perhitungan orang dewasa, belum lelah oleh ekspektasi yang menyesakkan..
Ada keindahan luar biasa dalam kepolosannya. Saat dia tertawa, saat dia antusias menceritakan impian-impiannya yang terdengar mustahil, aku merasa sedang melihat dunia melalui mata yang baru.. dunia yang penuh warna, dunia yang tak terduga, dunia yang ia ajak aku untuk ikut menjelajahinya..
Dia tidak datang dengan membawa beban berat. Dia datang membawa keceriaan. Bersamanya, aku tidak perlu memakai topeng. Aku bisa menjadi TITA, bukan seseorang yang dituntut untuk selalu tampak tegar atau bijaksana. Dia membawaku keluar dari rutinitasku yang berwarna, menjadi makin penuh warna.. menunjukkanku bahwa kebahagiaan itu kadang sesederhana mendengar cerita lucu atau membayangkan petualangan di negeri asing.
Namun, yang membuatku tak bisa benar-benar berpaling adalah sisi lain dari dirinya. Di balik segala kenekatan dan sifat "kekanak-kanakan" yang sering ia tunjukkan, ia punya ketenangan yang aneh. Ada saat di mana dia bisa menatapku dengan tatapan yang begitu dewasa, memberikan kata-kata yang menenangkan, seolah dia sudah hidup ratusan tahun lebih lama dariku. Dia tahu kapan harus bersikap sebagai pelindung, kapan harus menjadi kawan diskusi yang bijak, dan kapan harus menjadi seseorang yang cukup kupeluk dalam diam untuk meredakan badai di kepalaku.
Dia mencintaiku dengan obsesi yang jujur.. Sebuah keberanian yang sering membuatku takut sekaligus takjub. Bagaimana mungkin seseorang, di usia semuda itu, bisa begitu yakin pada apa yang ia rasakan? Dia tidak peduli pada realitas yang membatasi kita. Baginya, batasan usia, jarak, atau statusku adalah sekadar angka yang bisa ia lampaui dengan tekad. Dia adalah bentuk nyata dari ketulusan yang terkadang terasa menyakitkan, karena aku tahu, betapa pun aku menghargai kehadirannya.. Aku tidak bisa memberikan apa yang ia minta.
Ada rasa bersalah yang sering muncul. Aku tahu dia punya masa depan yang luas di depan sana, terutama dengan mimpinya yang sedang ia kejar di Jepang. Tapi dia justru bersikeras ingin menyeret namaku ke dalam masa depannya.
"Aku ingin kamu menemani mimpiku," katanya.. Kalimat itu bukan sekadar rayuan, bagiku itu adalah pengakuan akan betapa berartinya aku dalam hidupnya yang sedang tumbuh.
Sekarang, setiap kali aku teringat padanya, aku hanya bisa tersenyum π
Mungkin aku tidak akan pernah bisa membalas perasaannya sebagaimana ia inginkan.
Tapi di dalam blog ini, aku ingin mengabadikannya. Aku ingin mencatat bahwa dalam hidupku yang seringkali rumit dan absurd ini, pernah ada seseorang yang mencintaiku dengan cara yang begitu murni, yang membuatku merasa sangat hidup, dan yang entah bagaimana? berhasil mengubah caraku memandang dunia.
Dia mungkin akan pergi jauh ke Jepang, membangun hidup yang baru, dan mungkin suatu hari nanti, dia akan menemukan seseorang yang pantas untuk mendapatkan cinta selugu itu. Tapi bagiku, dia akan tetap menjadi kenangan tentang seseorang yang pernah "GILA" karena aku, seseorang yang tidak pernah menyerah meski berkali-kali kuberi jarak.
Terkadang, mencintai tidak harus tentang memiliki. Kadang, mencintai adalah tentang membiarkan seseorang menjadi alasan untuk kita tumbuh, meski pada akhirnya kita harus berjalan di jalan yang berbeda. Dan dia, dengan segala kegilaannya, telah mengajariku lebih banyak tentang cinta daripada siapa pun yang pernah singgah di hidupku.
π
Sekarang, saat aku menuliskan semua ini, bercerita tentang nya.. aku sadar bahwa kehadirannya adalah sebuah anugerah yang datang di waktu yang tidak tepat. Dia adalah musim semi yang datang tepat setelah aku memutuskan untuk beristirahat dari hiruk-pikuk perasaan. Namanya, atau lebih tepatnya, panggilan "Ditha" yang ia buat.. kini telah menjadi salah satu bagian paling surealis dalam hidupku.
Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, apakah obsesinya itu benar-benar cinta, atau sekadar proyeksi dari mimpi-mimpinya yang belum terwujud? Namun, melihat bagaimana ia belajar bahasa dengan begitu gigih, bagaimana ia merancang masa depan dengan namaku di dalamnya, aku tahu itu lebih dari sekadar obsesi. Itu adalah bentuk pengabdian yang paling murni, yang sayangnya, tidak bisa kupeluk tanpa menyakiti pihak lain.
Mungkin benar apa yang dia katakan tentang benang merah. Bahwa ada ikatan yang tidak kasatmata, yang menarik dua orang untuk saling bersinggungan meski pada akhirnya mereka harus kembali ke jalan masing-masing. Bagiku, dia bukan lagi sekadar "orang dari masa lalu". Dia adalah pengingat bahwa hati manusia punya ruang yang begitu luas..
Luas untuk menampung mimpi, luas untuk menampung keberanian, luas untuk terus mencintai meski kadang terlihat samar apakah bisa termiliki? dan luas untuk menerima cinta yang hadir tanpa diundang.
Jika suatu hari nanti, di bawah langit Jepang yang mungkin jauh lebih dingin dari tempatku berpijak sekarang, dia tahu aku menulis tentang nya diblogku ini dan dia membaca tulisan ini, atau sekadar mengingat momen-momen saat kita masih "bermain" di dunia fiksi kita..
Aku ingin dia tahu satu hal:
Terima kasih karena telah menjadikanku alasanmu untuk menjadi lebih baik.
Terima kasih telah mencintai sisi TITA yang bahkan mungkin tidak bisa kulihat sendiri.
Aku tidak bisa menjanjikan takdir akan memihak kita, aku tidak bisa memberikan jawaban yang dia harapkan, tapi aku akan selalu menyimpan memorinya dalam kotak kecil di hatiku.
Biarlah dia terus terbang, mengejar mimpi-mimpinya hingga sampai ke puncak yang ia tuju. Biarlah dia tumbuh menjadi pria dewasa yang hebat, yang bijaksana, namun tetap membawa sedikit dari "kegilaan" masa mudanya untuk membuat dunianya tetap indah.
Aku tidak akan pernah bisa memiliki nya, tapi aku akan selalu menjadi salah satu pendukungnya.. meski hanya dari balik layar, meski hanya dalam doa-doa yang tak pernah terucap.
Untukmu, si brondong yang pernah mencintaiku dengan begitu hebat..
Terima kasih pernah membuatku merasa bahwa hidup ini layak untuk dirayakan, meskipun pada akhirnya, kita hanyalah dua orang yang dipertemukan oleh takdir hanya untuk saling mengenang, bukan untuk saling menggenggam..
π
Ada satu sisi dari dirinya.. yang membuatku merasa tidak bisa lagi berpura-pura bahwa mimpiku tidak pernah ada.
Secara tidak langsung, dia adalah booster yang luar biasa..
Saat aku bercerita tentang keinginan terbesarku dan tentang salah satu mimpiku. Dia tidak menertawakanku.. Dia justru menatapku seolah aku adalah seseorang yang memang ditakdirkan untuk berdiri di sana, di tempat yang selama ini hanya ada di dalam daftar keinginanku.
Dia, si "BRONDONG GILA" itu, dengan segala antusiasmenya yang tak habis-habis, terus meyakinkanku bahwa usia hanyalah deretan angka yang tidak punya kuasa atas takdir.
Dia adalah pengingat yang paling keras.. bahwa aku bisa, bahwa aku berhak, dan bahwa mimpiku layak untuk diperjuangkan!!
Di tengah rutinitasku dan kesibukanku, dimana setiap harinya aku terikat oleh tanggung jawab, kontrak dengan brand-brand besar, dan komitmen profesional yang tak mungkin kutinggalkan begitu saja..
Suaranya, terkadang terasa seperti bisikan yang menyakitkan sekaligus menyenangkan yang memanggil namaku..
Dulu, sebelum dunia ini menyita hampir seluruh waktuku, salah satu impian itu adalah target yang ingin segera kusentuh.. Namun, hidup menuntut prioritas. Ada tanggung jawab yang membelengguku, ada pasangan yang menjadi bagian dari realitasku, dan ada kenyataan bahwa aku tidak bisa sekadar berlari meninggalkan semuanya begitu saja..
Lantas, bagaimana aku harus bersikap? Di satu sisi, aku merasa terikat oleh realitas yang sudah kubangun dengan begitu rapi..
Namun di sisi lain, dorongan dari diriku sendiri dan bisikan dari dirinya.. si anak muda yang obsesif dan tentang Edin yang selalu menyemangatiku, seolah membuka kembali pintu yang sudah kututup rapat.
Mereka mengingatkanku bahwa ada "TITA" yang lain, TITA yang dulu punya keberanian untuk bermimpi lebih dari sekadar apa yang ada di depan mata sekarang..
Aku merasa berada di persimpangan,
Apakah ini tanda bahwa mimpiku memang belum selesai? Ataukah mereka hanyalah perantara yang dikirim semesta untuk menguji seberapa besar keinginan itu masih menyala di dalam diriku??
Terkadang, mencintai mimpimu sendiri di tengah tanggung jawab yang nyata adalah bentuk perjuangan yang paling kompleks.. Namun juga paling indah dan paling absurd sekaligus paling nyata yang harus diperjuangkan.
Aku ingin bisa memperjuangkan mimpiku sendiri, meraih impian itu tanpa harus melepaskan tanggung jawab yang kupikul hari ini. Namun, hidup tidak selalu memberiku pilihan untuk memiliki keduanya sekaligus.
Mungkin untuk sekarang,, aku akan tetap menahan diri.. Aku akan terus memenuhi tanggung jawabku, terus profesional dengan kontrak-kontrak yang ada. Tapi, aku tidak akan mematikan api itu..
Terima kasih kepada si brondong gila dan Edin, karena setidaknya, mereka telah membantuku menjaga mimpi itu agar tidak mati..
Kedua nya meyakinkanku.. bahwa, meskipun jalanku mungkin masih panjang, harapanku untuk melangkah bersama mimpiku..
Suatu saat nanti bukanlah sebuah kemustahilan.
Mungkin aku belum bisa mewujudkan nya sekarang. Tapi, setidaknya aku tahu, bahwa di suatu sudut kecil hatiku, dan disuatu sudut bumi bagian lain..
Disudut semesta yang luas ini..
Masih ada manusia yang begitu tulus, antusias, juga mendoakan kebaikan untuk ku, peduli dan meyakinkan ku..
Untuk AKU terus percaya pada mimpiku, bahwa aku masih bisa memiliki keberanian untuk menjadi "AKU" yang sesungguhnya..
Sisi lain TITA yang memang indah, untuk terus tumbuh dan mekar selalu..
Dan mungkin, di satu titik di masa depan yang rahasia, benang merah itu akan membawaku pada jawaban yang selama ini kucari..
π₯°ππ
_ TITA WIRADISASTRA _
Tidak ada komentar:
Posting Komentar