Saat itu kita menghabiskan berjam jam bicara tentang rasa. kamu selalu terlihat lebih tegar, lebih kuat dan lebih menguasai hidup. setidak nya di depan ku.
Padahal ada satu masa di mana matamu sering terlihat berkaca kaca. tidak masalah karena itulah yang ku kagumi dari diri mu selalu.
Lantas kita berpisah begitu saja, ya begitu saja tanpa penjelasan. tanpa kata kata perpisahan. tidak ada pemindai waktu yang jadi peringatan kapan kita berpisah atau kapan kelak kita akan bertemu ? mungkin itu sebab nya perpisahan terasa sering begitu sangat menyakitkan. karena kerap datang tanpa peringatan.
Untuk gengsi yang kita junjung lantas kita berpura pura kuat berjalan, meninggalkan ku di belakang mu, dan meninggalkan mu di belakang ku. kita telah sepakat tanpa pernah mengucapkan kata sepakat. memuntahkan pelan pelan setiap kenangan yang pernah dengan begitu manis kita telan. menanam jarak dan menuai keterasingan.
Apa kabar mu ? aku lantas membuang muka, setidak nya untuk menahan desakan air mata atau mengendapkan amarah yang tersulut. aku tidak ingin ada di sana, aku tidak ingin ada di rasa yang pernah begitu marah kita umbar.
Buat apa ? toh.. kekekalan tidak pernah menyediakan ruang untuk perasaan. kekekalan itu untuk tuhan, bukan untuk roman picisan.
Belum sempat aku memutuskan bagaimana aku harus bersikap ? peran apakah yang kau ingin kan ? dan peran orang asing yang tak saling mengenal itulah yang kita lakoni kini.
Hanya mengenang dalam sebuah nostalgia saja. tentang sejauh mana kita sudah meninggalkan jejak. seharus nya, seharus nya, seharus nya, dan seharus nya kita ta pernah terpaut.
Seharus nya kau tahu ada begitu banyak skenario yang dulu sempat ku ciptakan apabila kita bertemu. dari kalimat pembuka, sedikit bumbu drama, serta kata kata manis.
Bukan seperti ini bertaut sekilas kemudian saling melepas.
Halilintar menggelegar, memukul skenario di kepala ku untuk beranjak bubar.
Dalam kehidupan nyata kita hanya terdiam. mungkin sudah terlalu banyak jarak yang kita tanam. kita berdiri di jurang yang curam, dalam, dan saling bersebrangan.
Lantas kau berlalu begitu saja. seperti dulu, ya seperti dulu. meninggalkan ku di belakang mu. bertanya tanya apakah kau pernah tahu tentang rasa ku ? tentang getar mu, tentang diri mu. yang toreh kan rindu selalu.
BY : JESSICA HUWAE
NOVEL : SKENARIO REMANG REMANG
Note : kalimat kalimat di atas, halaman yang paling ku suka dari novel ini. kalimat nya memberikan sihir ajaib untuk ku baca berulang ulang dan menginspirasi. ternyata seperti kisah ku.
_ Tita wiradisastra _
#astabust#2007#inmemory
" Hujan satu kata dengan ribuan tetesan air membasahi bumi memberi kesejukan.
Rindu satu kata datang bersama gemuruh dalam kesunyian yang menyesakan. "
Tidak ada komentar:
Posting Komentar